Dirgahayu Republik Indonesia, Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat

Dirgahayu Republik Indonesia, Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat

Malang, Mitrabangsa.id,- Dirgahayu Republik Indonesia, Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat Tema yang diusung masih erat sekali dengan pandemi. Walau katanya di negeri ini, 70-85% pandemi sudah teratasi. Apel detik-detik proklamasi kemarin tidak masker ditambah dengan acara dangdutan bersama.

So, barangkali bukan kita bangkit dan melawan bukan lagi soal pandemi. Tapi hal-hal substansi lainnya. Kemiskinan, ketidakadilan, diskriminasi dan bahkan kita harus bangkit dan melawan moderenisme.

Tema kemiskinan di Negeri ini tentu tidak akan tuntas dibahas, apalagi sampai sekarang, “paduan suara” kita di Senayan tidak punya desain dan peta untuk mengatasi kemiskinan. Maka tidak heran justru kemiskinan moral timbul.

Saya meyakini bahwa- 100% kemiskinan moral tidak lahir dari mereka yang miskin, justru meraka hanya korban. Lihat saja siapa yang melakukan korupsi uang bansos? Siapa yang merekaya banyak kasus? Siapa yang mengendalikan ekonomi menjadi ekonomi liberal? Siapa yang mendesain negera menjadi negara paling liberal dan materialis?,

belum lagi ketidakadilan, lihat saja dalam hal paling substansi, pendidikan. Tidak semua anak negeri ini memiliki nasib dan keuntungan yang sama soal pendidikan. Ada banyak dari mereka yang tidak memiliki akses pendidikan. Jang ngomong soal hukum di negeri ini. Malah di negeri ini, penegak hukumnya yang banyak melanggar hukum. Dalam satu kasus, sudah 31 polisi (maaf 31 tentu bukan oknum lagi) diperiksa. Masih mau bicara keadilan? Ini sedikit banget dari contoh.

Belum lagi kalau bisa soal diskriminasi di negeri ini. Si miskin selalu tidak punya akses politik, ekonomi dan pendidikan. Mereka yang beruang memiliki kuasa atas apapun di negeri ini. Diskriminasi dimana-mana, dari tingkat terkecil hingga besar sekalipun dalam sistem demokrasi liberal ia hadir.

Lanjut dia, Lihat saja di hampir seluruh desa di Indonesia, yang mengendalikan semuanya adalah mereka yang beruang, mereka yang memiliki modal. Si miskin selalu jadi korban atas politik dan ekonomi!

Belum lagi keterjajahan kita nampak jelas akibat moderinisme. Mulai dari keterjahahan paradigma, pola hingga cara hidup. Atas nama moderenisme dan kemanusian -lihat saja-, semua hal di negeri ini dilanggengkan. LGBT, pergaulan bebas, bahkan sampai pesta sex pun tidak masalah.

Nilai ke-Nusantara-an yang relgius dan berkebudayaan diletakan di tempat yang paling bawah dan sudah dianggap tidak penting. Kalau sudah ikut barat, sudah mirip dengan barat maka kamu sudah menjadi manusia berkebudayaan.

Masa bodolah itu religius dan kebangsaan, yang penting kamu kaya secara materi toh sudah bisa mengendalikan Indonesia. Moderenisme dan demokrasi liberal sama jahatnya!

Lantas, sudahkah kita merdeka di tengah lara negeri ini? Sudahkah kita memiliki kemerdekaan 100% sebagaimana yang dimimpikan HOS. Tjokroaminoto, KH. Wahab Chasbullah, Ir. Soekarno, Tan Malaka, dan lain-lain?

Saya rasa kita akan serentak menjawab TIDAK! Jika begitu, mungkinkah kita harus memproklamasikan kemerdekaan utuh untuk negeri ini?

banner 728x250